Jumat, 15 April 2011

Tommy Suharto dan Neneng Siap Bawa LMP ke Garis Depan NKRI


KOPI, Laskar Merah Putih (LMP) adalah sebuah ormas kebangsaan yang peduli dengan NKRI dan meneruskan perjuangan para pahlawan. Begitu banyak peran sertanya pada pemerintah yang telah dilakukan oleh LMP. Salah satu aksi yang paling diingat, yakni pembelaannya atas NKRI yang diinjak-injak pemerintah Malaysia.

Ketika LMP berdemostrasi dikantor perwakilan PBB, sang ketua umum Laskar Merah Putih melakukan orasi dan yel-yel ganyang malaysia, karena merasa bahwa negara serumpun itu tidak menghargai Republik Indonesia(RI). Demikian pula pada masalah Manohara beberapa tahun lalu, Laskar Merah Putih memainkan peran utama atas pembebasan artis Manohara Odelia Pinot.

Sepeninggal almarhum Edy Hartawan yang wafat pada bulan Oktober tahun lalu, pucuk kepemimpinan Laskar Merah Putih diperbincangkan. Pada Pebruari 2011 lalu, resmi terpilih Neneng A Tuty sebagai ketua umum (ketum) Laskar Merah Putih dan dewan pembina mengusung Tommy Hutomo Mandala Putra sebagai Ketua Dewan Pembina.

“Sebagai putera bungsu almarhum presiden RI ke 2, Suharto yang pernah memberikan ketentraman negara selama 32 tahun, walaupun ada jeleknya, setidak-tidaknyanya, kita harus lihat kepada sisi yang baik maupun yang tidak baik juga, disini saya lihat ia ingin mengembalikan citra Indonesia sebagai negara besar dan berdaulat di masa lalu. Saya lihat Tommy sudah memiliki program yang jelas ke arah tersebut,“ tutur Neneng yang juga ketua dari organisasi Angkatan Muda Trikora ini pada KOPI di hotel Gren Melia, Rabu (6/4/2011).

Dalam pidatonya pada penutupan musyawarah besar (mubes ) ke I Laskar Merah Putih di hotel Ever Green Puncak Bogor (27/2/2011), Neneng, yang pernah jadi promotor tinju dari Maluku ini mengatakan, dikepemimpinannya nanti, dia akan bekerjasama dengan berbagai pihak, seperti jajaran Tentara Nasional Indonesia (TNI), kepolisian, untuk membantu program pemerintah. "Saya akan meneruskan perjuangan pak Edy Hartawan, tanpa merobah sesuatu yang diprogramkan oleh beliau," ujar Neneng kala itu.
Meski wanita, Neneng bukan orang asing lagi di kalangan masyarakat. ”Kita perlu perubahan dan dia (Neneng) mampu untuk itu,” kata Panglima Laskar Merah Putih Yusad Regar.
“Sepeti kita lihat Indonesia ini, saya tidak ingin lagi ada benturan, saya punya pemikiran, mari kita benar-benar berjuang dengan LMP ini untuk keberadaan yang sekarang ini, seperti kita lihat negara kita ini sudah sembrawut,“katanya.
Neneng yang besar di Semarang ini menambahkan, saya memang rombak betul-betulstruktur organisasi LMP ini, dengan menambah orang-orang yang berpengalaman dalam keorganisasian ini, tanpa menghilangkan jasa LMP, harus kita hormati serta saya akan membenahi organisasi kearah yang lebih baik. “Anggota LMP sudah mencapai 2 juta orang lebih, yang saya sekarang inginkan, bagaimana militan itu menjadi betul militan, jadi sekarang saya inginkan bagaimana bisa memimpin dan berperanan, ikut berunding serta dengan pemerintah ini,“ imbuh Neneng yang asli Sunda dan Jawa itu.
"Harapan saya, para anggota tidak hanya sebagai pengangguran saja, mereka akan dibina juga oleh bapak Cakra Wardaya untuk ekonomi koperasi. Dan setiap aksi nantinya LMP tumbuh lebih beretika lagi," imbuh Neneng.
Sementara itu, Muray Edi Mulya wakil ketua penasehat dan pendiri dari Laskar Merah Putih Kalimantan Barat (KalBar) mengatakan forum ini sangat membantu masyarakat seperti pengamanan perbatasan Sajingan keluar-masuk pintu Indonesia dan Malaysia. Seperti peristiwa Orang Indonesia tertangkap diperbatasan tersebut mau diserahkan kepada pemerintah Malaysia di tahun 2010.
“Akhirnya masalah itu terselesaikan berkat nama besar serta rasa nasionalisme kebangsaan ditubuh Laskar Merah Putih dan dalam waktu dekat LMP akan membentuk markas LMP disetiap perbatasan,“ kata M. Edi Mulya yang telah mempunyai anggota di Kal-Bar sebanyak 447 orang . (Popi Rahim)

Distribusi Raskin di Bukittinggi Capai Target

KOPI, BUKITTINGGI - Kepala Perum Bulog Sub Divre Wilaya Bukittinggi Madjelwan pada KOPI diruang kerjanya menjelaskan Jumat (8/4), “Apabila terdapat Raskin yang tidak sesuai dengan kualitas beras Bulog maka tim koordinasi Raskin Kecamatan atau Pelaksana Distribusi harus menolak dan mengembalikannya kepada Satker Raskin untuk diganti dengan kualitas yang sesuai,” sekaligus menghimbau.

Untuk itu Madjelwan mengingatkan kepada Tim Koordinasi Kecamatan atau Pelaksana Distribusi agar melakukan pemeriksaan terlebih dahalu kualitas dan kuantitas Raskin yang diserahkan oleh Satker di Titik Distribusi (TD) sebulum di bagikan kepada Rumah Tangga Sasaran (RTS).
Sebab katanya, program Raskin adalah untuk membantu mengurangkan beban pengeluaran RTS melalui pemenuhan sebagai kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras melalui pendistrubusian beras bersubsidi sebanyak 180Kg untuk setiap RTS pertahunnya dengan harga tebus Rp. 1.600,- per Kg netto di TD.
Dalam kesempatan itu Madjelwan menerangkan sasaran Nasional terhadap RTS 2011 ini berjumlah 17.488.007 RTS. Sedang di Sumatera Barat terdaftar 257.438 RTS yang terbagi di Tiga Wilaya Kerja.
Yakni, Wil. Kerja Divre Sumbar , dengan peri cian RTS di Kota Padang 29.661, Kab. Padang Pariaman 19.855 RTS, Kota Pariaman 1.780 RTS, Kab. Pesisir Selatan 30.619, Kab. Kep. Metawai 17.711 RTS.
Wil. Kerja Sub Divre Bukittinggi, dengan peri cian Kab. Pasaman 21.800 RTS, Kab. Pasaman Barat 24.179 RTS, Kab. Agam 18.686 RTS, Kab. 50 Kota 17.817 RTS, Kota Bukittinggi 3.165 RTS, Kota Payakumbuh 3.671 RTS, Kota Padang Panjang 886 RTS.
Sedangkan Wil. Kerja Sub Dirve Solok, Kab. Sawahlunto/Sijunjung 9.106 RTS, Kab. Dharmasraya 5.590 RTS, Kab. Solok 23.753 RTS, Kab. Solok Selatan 9.699 RTS, Kota Sawahlunto 1.904 RTS, Kab, Tanah Datar 15.628 RTS, Kota Solok 1.928 RTS.
Madjelwan juga menjelaska indikator kinerja program Raskin di Wil. Kerja II, Sub Divre Bukittinggi telah mecapai 6 target. Yaitu, tepat sasaran penerima manfaat, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu serta tepat administrasi dan tepat kualitas. (ce)

Wawako Edwin: Wartawan agar Bekerja Profesional

KOPI, PADANG PANJANG -- Wakil Walikota Padang Panjang, H. Edwin, mengajak para wartawan yang bekerja di Padang Panjang untuk  profesional, sehingga bisa menghasilkan karya-karya jurnalistik yang membawa pencerahan, dan dapat memberi informasi positif kepada masyarakat.
“Tak bisa dipungkiri, kenyataan yang berkembang akhir-akhir ini, masih banyak wartawan kita yang hanya copy paste saja, tidak mencerminkan profesionalisme dalam mendapatkan narasumber, kurang mampu pula menghadirkan berita dan feature yang enak untuk dibaca,” ujar Edwin, Rabu (13/4), saat memberi arahan menjelang pembukaan Toursim Journalistic Training and Feature Writing Competition yang diadakan PPWI Cabang Padang Panjang bekerjasama dengan Dinas Porbudpar Kota Padang Panjang, di Kompleks PDIKM Silaing Bawah, Padang Panjang.
PPWI adalah singkatan dari Persatuan Pewarta Warga Indonesia, sebuah organisasi kemasyarakatan berbasis pewarta warga (citizen reporter) dan tempat berhimpunnya para jurnalis profesional yang bekerja untuk berbagai media massa.
Sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, imbuh Edwin yang juga salah seorang anggota dan pembina PPWI Padang Panjang, wartawan dituntut untuk memberikan informasi yang baik dan benar. Informasi itu, tuturnya, tidak hanya sekedar dihimpun, tetapi juga harus dituliskan dengan kata-kata yang bagus dan enak untuk dibaca.
“Menulis butuh kemauan, kemampuan dan wawasan yang luas. Tanpa ketiganya, sebuah karya tulis dikhawatirkan tidak akan jadi layak saji untuk publik,” kata Edwin.
Berbicara soal potensi wisata yang bisa dieksplorasi dan dipublikasikan peserta pelatihan jurnalistik ini, menurut Edwin, sejatinya tidak kalah dengan yang dimiliki daerah-daerah lain di Sumbar.
“Ada banyak hal yang bisa digali, sebutlah misalnya kawasan Batubatirai, Bukit Tui, aktifitas pertanian, memancing, bunga, sapi perah dan sebagainya. Upaya yang dilakukan PPWI bersama Dinas Porbudpar pada pelatihan ini, cukup besar artinya bagi pengembangan Padang Panjang ke depan,” tuturnya.
Kepala Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Porbudpar) Kota Padang Panjang, Hj. Ernawati Nasution, pada kesempatan itu menjelaskan, untuk penggalian potensi dan pengembangan wisata, pihaknya telah membagi Padang Panjang ke dalam empat zona.
“Zona A mencakup kawasan Bukit Berbunga, rumah kebun, pasar sayur organik, Minang Fantasi, kerajinan kulit dan industri souvenir. Zona B meliputi Institut Seni Indonesia (ISI), Diniyyah Puteri, SMAN 1 dan Thawalib. Sedangkan Zona C meliputi wisata olahraga, rekreatif, pusat belanja, kuliner, pasar seni dan GOR Banca Laweh. Zona D meliputi wisata alam, tanaman hias, talago sikumbang dan gua garuwo. Zona E meliputi kesehatan, rumah sakit dan tanaman organik,” terangnya.(Harian Umum Singgalang)